MENYENANGKAN ALLAH SWT
Rasanya sangat biasa kita berfikir atau berbuat sesuatu untuk menyenangkan anak, istri/suami, teman, saudara, rekan kerja, kolega bisnis ataupun tetangga. Boleh dibilang 80-90% waktu kita habis untuk urusan itu. Terkadang kita memberi hadiah2 khusus atau membuat momen2 khusus untuk menyenangkan mereka. Terkadang kita bahkan rela berkorban uang, waktu, tenaga dan perasaan agar mereka senang.
Nah yang mungkin agak luput dari fokus kita adalah bagaimana menyenangkan Allah SWT. Seringkali ketika kita berbicara maka yang terfikirkan adalah apakah orang yang mendengar pembicaraan kita terkesan, senang atau sebaliknya. Demikian pula ketika kita membuat tulisan2 maka yang terfikir adalah kira2 pembaca responnya bagaimana ya. Ketika kita berbuat sesuatu yang terfikir adalah apakah perbuatan itu berdampak positif atau tidak untuk lingkungan sekitar.
Ini sangat wajar, bukan sesuatu yang salah. Namun dalam ukuran keimanan ada satu lagi yang perlu menjadi konsideran yaitu apakah Allah SWT senang dengan ucapan, tulisan ataupun perbuatan yang kita lakukan.
Boleh jadi orang2 di sekitar memberi applause atas ceramah, tulisan dan perbuatan kita. Tapi Allah SWT ternyata tidak senang. Boleh jadi juga orang2 tidak suka, teman2 tidak suka, bahkan anak istri juga tidak suka, namun Allah SWT senang dengan ucapan, tulisan atau perbuatan kita.
Di posisi seperti ini, pilihan menjadi tidak mudah. Karena paikologis seseorang selalu nyaman dengan lingkungan yang mendukungnya dan cenderung menghindar dari lingkungan yang tidak mendukung apalagi memusuhinya. Satu-satunya cara memang kita harus berani menetapkan pilihan dengan sekuat hati bahwa hidup saya adalah untuk menyenangkan Allah SWT. Urusan berikutnya biarlah Allah SWT yang membereskan.
Kalau anak istri, teman2, saudara, tetangga dan lingkungan sekitar selaras dengan tujuan ini maka Alhamdulillah, ini adalah karunia besar dari Allah SWT. Namun jika tidak selaras, maka saya akan pilih menyenangkan Allah SWT karena di sini ada janji Allah SWT tentang kesuksesan, kebahagiaan, ketenangan dalam hidup di dunia yang sementara dan hidup di akherat yang selama-lamanya.
Bagaimana menyenangkan Allah SWT. Apakah Tuhan yang maha perkasa dan maha segala-galanya butuh hiburan untuk disenangkan?
Allah SWT memerintahkan manusia menyembah-Nya bukan berarti Dia butuh disembah. Allah SWT memerintahkan bersedekah bukan berarti Dia butuh sedekah. Jika seluruh manusia dan jin menyembah-Nya maka kemuliaan-Nya tidak akan bertambah sedikit pun. Demikian pula jika seluruh manusia dan jin bermaksiat maka tidak akan mengurangi setetes pun keagungan dan kekuasaan-Nya.
Jadi Allah SWT tidak membutuhkan apa pun dari mahluk-Nya. Namun manusialah yang butuh kepada-Nya. Kita berusaha menyenangkan Allah SWT semata-mata agar Allah SWT senang dan ridho kepada kita.
Bagaimana caranya? Tidak ada cara lain untuk menyenangkan Allah SWT kecuali dengan mengikuti jalan hidup yang ditempuh oleh kekasih-Nya, Baginda Muhammad Rasulullah SAW. Jalan hidupnya, kesehariannya, secara jelas dan detail telah tercatat dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kita tinggal copy paste dengan sungguh2. Di luar jalan ini, tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menyenangkan Allah SWT.
Pasti ada kekurangan dan kekeliruan ketika seseorang mengamalkan agama, maka Allah SWT perintahkan untuk selalu beristighfar minta ampun setelah melakukan berbagai amal kebaikan. Niat dalam beramal perlu selalu dievaluasi, sebelum, pada saat dan setelah beramal. Diluruskan bahwa amalan ini adalah untuk menyenangkan Allah SWT… bukan untuk tujuan2 yang lain.
Semoga kita diberikan istiqomah sampai akhir hayat dalam amal2 agama mengikuti jalan Baginda Rasulullah SAW. Demikian pula anak cucu kita sampai akhir zaman. Amiiin. (www.pesantrentanbihulghofilin.wordpress.com)
