Mengapa hidup saya tidak bahagia, hati saya tidak tenang, sedangkan saya mengamalkan agama.
Pertanyaan seperti ini sering kita dengar dari teman, saudara atau juga pengamatan kita terhadap lingkungan sekitar. Di titik tertentu, mungkin kita sendiri juga mengalaminya. Di relung hati yang paling dalam, tidak ada orang yang tahu, seperti di persimpangan jalan, terkadang muncul perasaan seperti itu juga dalam hidup kita.
Terlebih ketika datang ujian atau musibah dalam hidup kita terkait anak, rumah tangga, pekerjaan, bisnis, jabatan dll. Ingin rasanya menjerit, ya Allah mengapa ini terjadi pada saya. Bukankah saya sudah sholat, sudah zakat, sudah menyantuni anak yatim, sudah umroh dan haji. Lebih-lebih ketika kita mencari orang yang ingin kita ajak sharing terkait masalah tersebut, ternyata tidak mudah.
Seorang Kyai, maaf namanya tidak pernah muncul di TV atau Sosmed namun punya santri ribuan, memberikan gambaran yang bisa jadi bahan perenungan.
Menurutnya, orang beragama itu mirip sepasang penganting yang naik bis dari Jakarta menuju Bandung untuk honeymoon. Dia telah memilih bis dengan benar. Bisnya bagus, AC-nya dingin, ruangannya harum dengan parfum, cat luarnya dan interiornya pun indah, penumpangnya juga nampak rapi dan sopan. Perjalanan ke lokasi bulan madu ditempuh sekitar 4 jam.
Setelah bis berjalan, mulai nampak kebiasaan yang aneh dari pengantin pria. Dia tidak puas dengan hanya menyibak gorden jendela untuk bisa melihat pemandangan indah sepanjang perjalanan tersebut. Dia berusaha membuka jendela dengan paksa. Akhirnya dia bisa juga membuka jendela dengan sedikit kerusakan di kacanya.
Itu belum memuaskannya. Dia ingin mendapat udara yang lebih segar, alami dan kencang. Maka kini dia membuka pintu bis tersebut. Udara kencang pun masuk ke dalam bis. Tidak berhenti di situ, rupanya dia belum puas juga dan ingin bereksperimen lebih menantang lagi. Sepanjang jalan tersebut dia tidak mau duduk di kursinya menemani istrinya yang cantik, setia dan selalu tersenyum kepadanya. Dia memilih berdiri di pinggiran pintu yang telah dia buka dan sekali-kali mengeluarkan kakinya ke arah pengendara motor atau mobil di sepanjang jalan tersebut.
Beberapa kali kakinya terbentur mobil atau motor yang sedang jalan. Kakinya mulai mengeluarkan darah. Tapi itu tidak membuatnya berhenti. Dia tampak semakin menikmati aksinya. Sekarang dia lebih gila. Dia tempelkan kakinya di aspal padahal bis sedang melaju kencang.
Alhasil kakinya pun semakin berdarah-darah. Ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi pada laki-laki itu. Kalau ada penumpang lain di bis itu yang concern, mau berbaik hati memperingatkan dia, menariknya kembali ke tempat duduknya, menasehatinya, maka ada kemungkinan dia akan bisa mencapai tujuan honeymoon-nya.
Jika tidak, maka sangat mungkin dia akan terlempar dari bis, entah karena tersangkut motor, mobil atau tidak kuat menahan terpaan angin di tengah kakinya yang sudah terlalu banyak mengeluarkan darah.
Demikianlah gambaran perjalanan beragama manusia saat ini. Allah SWT telah siapkan perangkat beragama dengan lengkap. Teladan dan contoh dari Rasulullah SAW dari bangun tidur sampai tidur lagi telah demikian jelas dan detail.
Kalau engkau mengikuti jalan ini dengan sepenuh hati maka Allah SWT janjikan kebahagiaan, kedamaian dan kesuksesan yang haqiqi dan abadi di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika engkau mencari jalan lain maka tidak ada janji Allah SWT di situ. Maka jangan salahkan Allah SWT kalau kamu merasa sudah mengamalkan agama tetapi hatimu tetap tidak tenang, hidupmu tetap tidak bahagia.
Allah SWT adalah dzat yang tidak pernah dan tidak akan mengingkari janji. Janjinya tentang kebahgiaan, kedamaian, kesuksesan dunia dan akhirat pasti akan Dia tunaikan. Namun sedikit orang yang mau mengikuti agama ini dengan sungguh2 dan tertib. Kebanyakan orang mengikuti agama sesuai dengan kehendaknya, dengan logikanya bahkan dengan nafsunya. Bukan menyesuaikan diri dengan kehendak Allah SWT dan rasul-Nya.
Terkadang di satu aspek beragama, namun aspek lain menjauh dari agama.
Yang dibuat adalah DZIKIR namun ditambahi dengan musik2 yang melalaikan.
Yang dibuat adalah TAKLIM, belajar ilmu namun ditambah dengan ihtilat campur aduk antara laki2 dan perempuan.
Yang dibuat adalah KAJIAN tapi isinya lebih banyak membicarakan keburukan orang.
Yang dibuat adalah HAJI/UMROH tetapi yang mengagumkan hatinya bukanlah kebesaran Allah namun megahnya hotel2 dan tempat perbelanjaan di sekitar masjidil haram.
Yang dibuat adakah Zakat, Infaq, Sedekah dan santunan anak yatim tetapi di hati kecilnya mengharap pujian manusia.
Yang dibuat adalah SHOLAT, tetapi sholatnya mengikuti kemauannya sendiri bukan kehendak Allah SWT dan sunnah Nabi-Nya, di awal waktu, dengan cara berjamaah, di masjid/musholla (bagi laki2).
Yang dibuat adalah DAKWAH tapi bukan mengorbankan diri, waktu, tenaga, perasaan dan harta untuk Allah SWT namun yang diharapkan justru kemasyhuran, pujian, karpet merah dan bahkan upah atau jabatan. Padahal semua nabi dan rasul dalam berdakwah yang diperoleh adalah caci maki dan hinaan.
Penyakit2 ini jika belum hilang dari amalan kita, maka akan menjadi penghalang dari janji Allah SWT tentang kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian dan ketenangan yang didambakan semua orang.
Rasanya tidak mudah memang mencapai amalan yang sempurna. Allah-pun tahu persis kita akan membuat banyak kesalahan dan kekurangan dalam mengamalkan agama. Setidaknya, kita memulai amalan dengan sungguh2 serta tidak putus-putusnya kita selalu meminta dan mengharap belas kasih Allah SWT. Semoga Dia berkenan menerima amalan2 kita dan mengampuni seluruh kekurangannya. Amiiin.
