by H. Ziq Abu Izza Adduri, MSc.
Sering kita berfikir bagaimana caranya supaya anak2 senang dan gembira. Kemudian kita berbuat sesuatu misalnya mengajak mereka jalan2 atau membelikan oleh2 kesukaannya, supaya mereka tersenyum bahagia. Demikian pula kepada suami/istri, kolega, dan teman2 rasanya selalu kita ingin membuat diri kita bisa menyenangkan mereka. Karena suasana itu membuat kita juga gembira dan bahagia. Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah berusaha membuat diri kita menyenangkan bagi Allah SWT, sehingga Allah SWT tersenyum sayang kepada kita?
Bagaimana caranya? Apakah ada _special treatment_ yang bisa menyenangkan Allah SWT?
Untuk menyenangkan Allah SWT tidaklah lebih ribet dibandingkan menyenangkan teman2 kerja, kolega bisnis ataupun tetangga. Sederhana bahkan terkadang terkesan sepele. Namun ada hal-hal khusus yang perlu menjadi perhatian sehingga kita tidak salah fokus. Yang perlu diingat adalah ketika kita melangkah untuk menyenangkan Allah SWT pasti di sisi lain akan membuat setan tidak senang. Di sini setan bukan pasif, tapi dia aktif dan proaktif. Maka yang perlu dipasang adalah *kaca mata kuda* fokus dengan tujuan untuk menyenangkan Allah SWT dan abaikan dulu suara2 yang berbeda dengan fokus tersebut namun tidak perlu dilawan secara frontal. Tetap fokus pada tujuan menyenangkan Allah SWT, yang lainnya biarkan Allah SWT yang membereskan dengan cara-Nya.
Ada amalan2 yang membuat Allah SWT menjadi senang dan tersenyum.
Secara ringkas amalan ini dibagi menjadi 4 butir. Baca lebih lanjut…..
by H. Ziq Abu Izza Adduri, MSc.
Rasanya sangat biasa kita berfikir atau berbuat sesuatu untuk menyenangkan anak, istri/suami, teman, saudara, rekan kerja, kolega bisnis ataupun tetangga. Boleh dibilang 80-90% waktu kita habis untuk urusan itu. Terkadang kita memberi hadiah2 khusus atau membuat momen2 khusus untuk menyenangkan mereka. Terkadang kita bahkan rela berkorban uang, waktu, tenaga dan perasaan agar mereka senang.
Nah yang mungkin agak luput dari fokus kita adalah bagaimana menyenangkan Allah SWT. Seringkali ketika kita berbicara maka yang terfikirkan adalah apakah orang yang mendengar pembicaraan kita terkesan, senang atau sebaliknya. Demikian pula ketika kita membuat tulisan2 maka yang terfikir adalah kira2 pembaca responnya bagaimana ya. Ketika kita berbuat sesuatu yang terfikir adalah apakah perbuatan itu berdampak positif atau tidak untuk lingkungan sekitar.
Baca lebih lanjut…..
Mengapa hidup saya tidak bahagia, hati saya tidak tenang, sedangkan saya mengamalkan agama.
Pertanyaan seperti ini sering kita dengar dari teman, saudara atau juga pengamatan kita terhadap lingkungan sekitar. Di titik tertentu, mungkin kita sendiri juga mengalaminya. Di relung hati yang paling dalam, tidak ada orang yang tahu, seperti di persimpangan jalan, terkadang muncul perasaan seperti itu juga dalam hidup kita.
Baca lebih lanjut…..
IHLAS itu dapat diumpakan orang tidur. Kalau ditanya “sudah tiduk Bang?” dia menjawab Sudah. Berarti dia belum tidur karena masih bisa menjawab. Kalau menjawab belum, berarti memang belum tidur. Tapi kalau dia tidak menjawab, sudah tidak sadar dengan kondisi sekelilingnya atau bahkan terdengar bunyi ngorok maka dia sudah benar2 tidur. Itulah IHLAS. Orang yang ihlas dalam beramal tidak sakit hati ketika dicela, tidak bangga ketika dipuji, tidak merisaukan omongan orang terhadap amalannya. Baca lebih lanjut….
Sedikit Perenungan Konsep Hidup, mungkin bisa bermanfaat untuk sahabat semua dalam menjalani tahun2 yang akan datang.
Saya yakin kalau kita memintarkan anak orang lain maka Allah SWT akan pintarkan anak kita dengan cara-Nya. Kalau kita mengupayakan anak orang lain jadi sholeh maka Allah akan buat anak kita jadi sholeh dengan cara-Nya. Baca lebih lanjut ……